Teknik Pengambilan Sampel Untuk Analisis WSSV (White Spot Syndrome Virus) Menggunakan Uji Polymerase Chain Reaction (PCR)

Teknik Pengambilan Sampel Untuk Analisis WSSV (White Spot Syndrome Virus)
Menggunakan Uji Polymerase Chain Reaction (PCR)
Oleh : Bahtiar Syah Putra, S.Kh, Syafrizal, S,Pi

Kejadian infeksi WSSV pada budidaya udang merupakan permasalahan yang kompleks sehingga dapat mengakibatkan kerugian yang sangat signifikan. Penyakit ini menyebabkan angka kematian yang tinggi pada hampir seluruh setadium pemeliharaan baik di hatchery maupun pada usaha pembesaran. Salah satu metode untuk mendiagnosis kejadian infeksi WSSV pada udang adalah dengan menggunakan uji PCR (Polymerase Chain Reaction).
PCR adalah suatu tehnik untuk menguji adanya infeksi virus pada ikan dan udang melalui reaksi berantai suatu primer dari sequen DNA dengan bantuan enzyme polymerase sehingga terjadi amplifikasi DNA target secara invitro. Selain digunakan sebagai alat diagnosis kejadian penyakit, PCR juga digunakan sebagai screening test untuk memproduksi benih bebas WSSV sehingga dapat mengurangi resiko kejadian penyakit selama masa pemeliharaan.
Teknik Pengambilan Sampel dilakukan dalam beberapa tahapan antara lain persiapan alat dan bahan sampling, sterilisasi alat sampling, pelabelan, pengambilan dan pengawetan sampel serta packing sampel.

Persiapan Alat dan Bahan
Sebelum melakukan sampling, sebaiknya dilakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan seperti gunting, pinset, bunsen, desinfektan (alkohol 70%, pemutih, klorin), mikrotube/botol sampel, sarung tangan,pensil/spidol marker, label, korek api, seser, ethanol 96%, dan spirtus. Setelah peralatan siap, lakukan sterilisasi alat terlebih dahulu sebelum dilakukan pengambilan sampel.


Pelabelan

Sterilisasi Alat


Jenis Sampel yang dapat digunakan untuk pengujian PCR antara lain:
1. Larva, PL dan Benur
Sampel benur idealnya diambil dari setiap bak pemeliharaan dengan sampling 4 titik sebanyak 150 ekor ditempatkan dalam wadah terpisah dan diberi label.




Benur
2. Udang di Tambak
Dipilih udang yang menunjukkan gejala tidak normal. Untuk deteksi terinfeksi virus atau tidak diperlukan sampel minimal 10 ekor





Udang di tambak
3. Induk Udang
Semua induk atau calon induk yang dicurigai sebagai pembawa virus. Pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan darah (haemolimph) atau kaki renangnya sehingga induk tidak dimatikan. Induk yang diambil sebagai sampel sebaiknya adalah induk yang telah bertelur, kemudian induk tersebut di dinginkan dengan cara di masukkan kedalam batu es.




Teknik Pengambilan dan Pengawetan (preservasi) Sampel
1. Sampel berupa benur dan gelondongan untuk analisa wssv dapat dikirim dengan keadaan hidup atau langsung diawetkan ke dalam alkohol 70%.

Pengambilan Sampel


Pengawetan sampel dengan ethanol 96%


Pengambilan kaki renang induk

2.Udang besar dan induk cukup diambil kaki renangnya dimasukan kedalam alkohol 100%atau 70%. Atau diambil kepalanya lalu disuntik dengan alkohol kemudian direndam dalam alkohol.
3. Udang besar atau induk langsung disimpan dalam frezer.
Setelah dilakukan pengambilan sampel, lakukan pengiriman sampel secepatnya serta hindarkan sampel dari sinar matahari.

Teknik Pengiriman Sampel
1. Pengiriman Hidup
Pengiriman dapat dilakukan seperti pengiriman bebih atau ikan hidup lainya, dengan cara dimasukan dalam kantong plastik kemudian diberi oksigen secukupnya
2. Pengiriman Beku
Pengiriman dilakukan dengan cara sampel udang dimasukan dalam kantong plastik berisi air dan diberi pecahan es batu. Waktu pengiriman harus kurang dari 12 jam.




Pengiriman Beku

3. Pengiriman dalam Alkohol 70%
Benur maupun udang besar dapat dipotong dan dimasukan dalam botol yang berisi alkohol 70%.



Udang dalam larutan fiksatif

Untuk deteksi penyakit dengan teknik PCR, hasilnya dapat diperoleh dalam waktu 5 - 7 jam.

TOLERANSI BEBERAPA FAKTOR YANG DICURIGAI TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN DI TAMBAK PRODUKSI UDANG BBAP UJUNG BATEE


TOLERANSI BEBERAPA FAKTOR YANG DICURIGAI TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN DI TAMBAK PRODUKSI UDANG

BBAP UJUNG BATEE

Oleh

Syafrizal, S.Pi

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kemampuan dalam mengelola lingkungan merupakan kunci dari keberhasilan dalam produksi udang pada suatu tambak. Pereairan merupakan lingkungan tempat udang tinggal dan melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya baik yang bersifat biotik dan abiotik. Didalam habitat aslinya ekosistem yang terbentuk senantiasa terjaga kondisinya terjaga dalam keseimbangan melalui natural control mechanisme. Akan tetapi jika di dalam perairan tambak sering terjadi kendala yaitu adanya perubahan lingkungan yang dapat menyebabkan kematian dan dapat menggagalkan budidaya

H­2S atau yang lebih sering disebut dengan hidrogen sulfida merupakan senyawa kimia yang berbahaya di perairan, kandungan H2S di perairan akan menyebabkan kematian terhadap udang yang dibudidayakan. Akan tetapi H2­S ada di perairan tambak karena di pacu oleh beberapa faktor antara perubahan pH, nitrate, nitrite, suhu, ammoniak.

Sehingga di perlukan sebuah perekayasaan untuk mengindetifikasi pemacu dari timbulnya senyawa H2S di perairan tambak. Sehingga para petani dapat melakukan pengelolan kualitas air secara baik dan bener. Ouput yang diharapkan petani melakukan pengelolaan kualitas air secara baik, sehingga dapat meningkatkan produktifitas tambak.

1.2. TUJUAN DAN SASARAN

· Mengetahui toleransi beberapa yang dapat menimbulkan senyawa H2S di perairan tambak.

· Memberikan informasi tentang senyawa H2S dan pengelolaan kualitas air tambak

· Informasi yang tepat guna dan efisien tentang faktor-faktor lingkungan penyebab timbulnya senyawa H2S..

II. METODE KEGIATAN

2.1. Waktu dan Tempat

Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan dilakukan pada bulan Janurari – Desember 2009, bertempat di laboratorium Management Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee.

2.2. Bahan dan Alat

Bahan yang di gunakan selama kegiatan ini antara lain bahan reagent Hach uji nitrite, bahan reagent Hach uji amoniak, bahan reagent Hach nitrate, bahan reagent h2s, pH buffer 4 dan 7, udang windu pl 12 sebanyak 300 ekor, pakan udang serta tanah dasar tambak setinggi 3 cm . Alat yang di gunakan Hach colorimeter, pH YSI 100, ataqo refragtometer, aquarium sebanyak 3 buah.

2.3. Metode

Metode yang digunakan untuk kegiatan ini adalah metode pengamatan pengukuran tentang H2S dan pengukuran faktor-faktor yang dicurigai dari penyebab timbulnya senyawa H2S, seperti pengukuran, nitrate, nitrite, suhu, pH, salinitas, amoniak. Pengukuran dilakukan 1 kali dalam seminggu selama 1 bulan dalam skala laboratorium produksi, data yang didapat diolah dengan menggunakan metode deskriptif dan studi literatur.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Dari hasil pengamatan yang didapat selama kegiatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini


3.2. Pembahasan

Dari hasil yang diatas pada pengamatan minggu I, nilai kualitas air seperti nitrate, nitrate, pH, suhu, amoniak, salinitas tidak mempengaruhi kadar H2S di aquarium lihat grafik 1, dan terjadi perubahan kadar H2S di aquarium pada pengamatan ke 2 lihat grafik 2 yaitu pada aquarium 1 sebesar 0.001, aquarium ke dua 0.002, dan pada aquarium ke 3 sebesar 0.001. Terbacanya nilai H2S dimungkinkan karena adanya perombakan bahan organik di aquarium. Tingginya bahan organic dan kondisi anaerobic pada sediment, yang ditunjukkan dengan warna hitam dan bau yang menyengat H2S menyebabkan ketidakberadaan organisme benthos pada dasar tambak. (Avnimelech, & Ritvo, 2003). Akan tetapi nilai H2S yang ada tidak mematikan udang yang di pelihara di masing-masing aquarium.

false false MicrosoftInternetExplorer4

Pada pengamatan di minggu ke-3 terdapat perubahan terhadap nilai h2s dari 0.001 – 0.002 ppm menjadi 0.004 pada aquarium 1, 0.007 ppm pada aquarium 2, 0.009 ppm, pada aquarium 3 (gbr 3. grafik pengamatan minggu ke 3). Perubahan ini mungkin di pengaruhi oleh perubahan pH yang pada pengamatan minggu ke 2 dari 7.74 – 7.45, menjadi 7.04 – 6.80 pada pengamatan minggu ke 3.

href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CACER%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml">

Adanya kenaikan h2s di perairan berpengaruh pada udang yang di pelihara di aquarium, pada masing aquarium terdapat kematian udang, pada aquarium 1 terdapat kematian udang sebanyak 11 ekor, dan 14 ekor pada aquarium kedua, serta 18 ekor pada aquarium ketiga.

Boyd dalam Rianto (2003) menjelaskan bahwa sulfida akan bereaksi dengan hidrogen menjadi Hsdan H2S. Umar dalam Sastrawijaya (2000) menyatakan H2S cukup berbahaya bila terjadi pemaparan yang panjang meski dalam dosis rendah, senyawa tersebut dapat menimbulkan gangguan sistem respirasi, iritasi mata, gangguan sistem saraf, gangguan kosentrasi serta gangguan sintesis enzim terutama pada retikulosit dan sistem saraf.

Hidrogen sulfida (H2S) berasal dari kegiatan dekomposisi protein. Ini muncul dari buangan industri metalurgi dan pekerjaan kimia, pabrik bubur kertas, dan pabrik penyamakan. Penyebab lainnya adalah adanya senyawa sulfat dan sulfur di dalam endapan tanah dan kemudian teroksidasi melalui bantuan bakteri (Boyd, 1986) dan tertrasnfer ke dalam koloum air. Kosentrasi yang bisa menimbulkan kematian ada pada rang 0.4 mg/L (salmon) dan 4 mg/L (carp, tench dan eel). Konsentrasi aman pada konsentrasi kurang dari 0.002 ppm (udang, Van Wyk & Scarpa, 1999).

Toksisitas hidrogen sulfida menurun dengan meningkatnya pH (>8) dan menurunkan suhu, karena mengurangi non disosiasi H2S akan mengurangi tingkat racunnya. Pada pH 7.5 sekitar 14 % beracun, pada pH 7.2 meningkat menjadi 24%, dan pada pH 6.5 mencapai 61%, serta pada pH 6 mencapai 83% dari total sulfida yang terlarut di dalam air (Van Wyk & Scarpa, 1999).

Penurun pH di aquarium terjadi dikarenakan adanya pergantian air pada setiap aquarium, hal ini dilakukan karena nilai amoniak yang cukup tinggi sehingga di perlukan pergantian air akan tetapi setelah pergantian air ternyata pH yang telah turun meningkatkan toksik h2s. Di tambak sesungguhnya perubahan pH dapat terjadi karena masuknya air laut ke tambak saat pasang.

Untuk mengembalikan keseimbangan pH maka dilakukan pengapuran. Penanganan terhadap perubahan pH di dalam kolom air media budidaya bisa dilakukan. Kondisi pH yang menurun akibat adanya hujan bisa dilakukan dengan melakukan pengapuran dengan menggunakan kapur atau dolomit degan dosis 100 - 200 kg/ha (Adhikari, 2003). Penambahan kapur mengembalikan nilai pH yang diinginkan yaitu 8.05 – 7.85 pada aquarium uji, dengan pH tersebut nilai h2s menjadi turun dan menurunkan sifat toksit dari h2s.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Dari kegiatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, perubahan lingkungan yang menyebabkan tingginya nilai H2S di perairan dapat disebabkan oleh perubahan pH. pH yang cenderung rendah semakin meningkatkan toksik pada H2S hal ini dapat di lihat dari pengamatan minggu ke tiga pada aquarium ketiga dimana nilai H2S sebesar 0.009 ppm pada pH 6.80 mampu mematikan udang yang dipelihara sebanyak 18 ekor. Perubahan pH dari basa menjadi asam dapat disebabkan dari penggantian air pada aquarium, di tambak sesungguhnya penggantian air dapat terjadi adanya air pasang yang masuk ke tambak atau pun masuknya air hujan ke tambak.

4.2. Saran

Dari kegiatan yang telah dilakukan dapat disarankan perlunya menjaga keseimbangan pH di perairan, karena fluktuasi nilai pH dapat meningkatkan toksiksitas dari h2s. Pengapuran perlu dilakukan apabila pH air rendah saat penggantian air diperlukan untuk mengembalikan nilai pH dan menjaga h2s tidak menjadi toksis

DAFTAR PUSTAKA

Adhikari, S. 2003. Fertilization, Soil dan Water Quality Management in Small- Scale Ponds : Fertilization Requirementa and soil properties. Central Institute of Freshwater Quaculture, Kausalyagangga, Bulaneswar India. J.Aquaculture Asia, October-December 2003 (Vol. VIII No. 4)

Avnimelech, Y., Ritvo, G., 2003. Shrimp and fish pond soils: processes and management. Aquaculture 220, 549-567

Boyd, C.E. 1986. Water Quality Management for Fond Fish Culture. Elselvier Scientific Publishing Company. Amsterdam The Netherland.

Rianto, T. 2003. Toksisitas Sulfida Terhadap Benih Ikan Kerapu Macan (Ephinephelus fisceguttatus). Skripsi. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau

Sastrawidjaya, A.T. 2000. Pencemaran Lingkungan. Aneka Cipta. Jakarta

Van Wyk P. dan John Scarpa. 1999. Water Quality Requirements and Management. Chapter 8 in . Farming Marine Shrimp in Recirculating Freshwater Systems. Prepared by Peter Van Wyk, Megan Davis- Hodgkins, Rolland Laramore, Kevan L. Main, Joe Mountain, John Scarpa. Florida Department of Agriculture and Consumers Services.Harbor Branch Oceanographic Institution.



Transferansi Virus

TRANSFERANSI VIRUS
oleh Irvan Firmansyah,Bahtiar Syah Putra, Syafrizal, Fitriana, Hendro Sulistiono, Eva Rianti, Indah Wahyunigsih, Dr. Richard Callinan, Dr. Jhon Humphrey, Dr Murwantoko

PENDAHULUAN
Pembudidaya ikan kerapu di Aceh kembali mendapatkan cobaan berat. Belum lagi pulih dengan sempurna dari cobaan besar yang telah meluluh lantakkan semua dan prasarana untuk budidaya ikan kerapu. Berdasarkan Informasi yang diperoleh dari Aceh Aquaculture Communication Center (AACC) yang berkedudukan di BBAP Ujungbatee, terdapat kematian massal benih ikan kerapu di desa Sangso Kecamatan Samalanga yang menyerang petani petambak pendederan usaha kerapu. Berdasarkan informasi tersebut tim Laboratorium Management Kesehatan Ikan bersama dengan Dr. Richard Callinan, Dr Jhon Humphrey, dan Dr Murwantoko menuju ke Desa Sangso Kecamatan Samalanga

METODE
Dalam memeriksa suatu kejadian penyakit yang terjadi di Desa Sangso, Tim Laboratorium melakukan observasi terhadap kondisi lingkungan budidaya pendederan kerapu, mengambil sampel ikan kerapu untuk dilakukan diagnosa, wawancara terhadap petambak ikan kerapu. Observasi lingkungan meliputi dari tata letak tambak, ketersedian air, inlet outlet, pengukuran parameter kualitas air yang meliputi pengukuran pH, DO, Suhu, Nitrat, Amoniak, Nitrit,

Diagnosa ikan kerapu meliputi tiga tahapan yaitu tahap pertama gross patology yang merupakan pemeriksaan secara makroskopik, dan mencatat semua perubahan serta gejala klinis yang ada di lanjutkan ke tahap kedua yang di sebut dengan sub gross patology, pengamatan sampel dengan bantuan disecting mikroskop untuk melihat perubahan pada organ ikan sampel. Tahap ketiga di sebut dengan secara mikroskopik untuk melihat organ sampel. Serta uji PCR untuk menendeksi virus maupun pembuatan preparat histologi
Wawancara dengan petambak dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui asal benih kerapu, cara budidaya dan gejala awal dari serangan penyakit. Dari hasil wawancara di ketahui benih berasal dari toke besar di daerah Sumatera Utara, dan di dapatkan benih tidak bersertifikat bebas virus atau penyakit berjenis kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus), serta dari benih alam berjenis kerapu lumpur (Epinephelus tauvina). Pada umumnya benih kerapu yang ada di desa Sangso di dapat dari Jawa dan Bali dan sering tidak disertai dengan surat keterangan bebas virus.

Hasil
Dari hasil pengamatan secara visual atau makroskopik banyak benih ikan kerapu yang berenang tapi arah dan berputar dari hasil mikroskopik banyak ikan kerapu terserang oleh jenis-jenis parasit seperti monogenenia, kopopeda, tricodina. Dari pengamatan PCR ikan kerapu macan dan kerapu lumpur positif terkena VNN (Viral Necrosis Nerveus) dan setelah di kompare dengan pengamatan histologi pada target organ VNN positif terkena VNN dengan banyak vakuola yang mengelilingi organ mata khususnya pada retinaPembahasan
Viral Necrosis Nerveus (VNN) disebabkan oleh family Nodaviridiae, virus ini akan merusak organ targetnya yaitu otak dan mata, seperti yang didapatkan pada pemeriksaan histopatologi sehingga dikenal dengan nama lain yaitu virus encephalopathy dan retinopathy (VER). Viral Necrosis Nerveus (VNN) telah menyebar di Jepang, Korea, China, Negara-negara Asia Tenggara, Australia Utara, Austria, Iran, Israel, Yunani, Perancis, Norwegia, Kanada, dan Amerika. Penyakit ini sangat ganas sehingga cepat menyebar di berbagai negara.
VNN dapat menyebabkan kematian massal pada ikan kerapu dengan waktu yang relatif singkat, sebagian besar jenis ikan yang terserang oleh VNN di Asia, ikan kerapu (Epinephlus spp), ikan kakap (Lates spp), di Asia dan Australia. Bahkan di kabar VNN dapat menyerang pada ikan belanak (Mugill spp)

Gejala Klinis
Gejala klinis umum VNN pada beberapa jenis ikan antara lain : perilaku ikan terserang berenang tak menentu, dan ikan mengapung dengan perut diatas disebabkan oleh pembengkakan gelembung renang, warna tubuh terlihat lebih gelap dan selera makang berkurang. Kematian kumulatif mencapai 34% hingga 56% selama 10 minggu. Ikan yang terkena VNN biasanya memperlihatkan gangguan saraf yang berhubungan dengan vacuolisasi (kerusakan) kuat sistem saraf pusat dan retina

Tanda Klinis
  • hilangnya selera makan
  • kelesuan
  • perilaku renang abnormal (gerakan memutar dan menabrak kasar)
  • Pembesaran gelembung renang pada beberapa jenis ikan dan perwarnaan
Kemungkinan terjadinya VNN
Terjadinya VNN yang menyerang ikan kerapu di Desa Sangso Kecamatan Samalanga, khususnya pada ikan kerapu macan dapat di mungkinkan dari asal benih ikan kerapu. Serangan virus dapat terjadi pada induk ikan kerapu macan dan menerunkan sifat virus melalui telur yang di hasilkan dan menjadi reaktif ada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangan virus. Dan di perkuat dengan tidak adanya surat keterangan bebas virus pada benih yang dibeli.
Sedangkan pada kerapu lumpur yang berasal dari alam merupakan hal yang mengejutkan karena benih merupakan hasil tangkapan dari alam, sangat jarang terjadi benih dari alam terserang oleh virus. Tetapi kemungkinan terjadinya cukup besar di karena dari hasil wawancara dengan pemilik ikan kerapu, kebiasan petambak selalu membuang ikan-ikan yang mati ke saluran, dan apabila ikan yang mati tersebut mengadung virus dan dimakan oleh ikan-ikan kecil atau calon induk kerapu tidak mustahil akan terjadi transferansi atau perpindahan virus.

Transferansi Virus
Perpindahan virus atau transferansi virus dapat terjadi secara vertical, dapat menyebar melalui larva dari VNN hasil pemijahan dari Induk yang terjangkit VNN positif. Virus VNN dapat menjangkiti telur dari hasil pemijahan induk-induk ikan kerapu yang positif VNN. Penyebaran ini dapat dikatakan dengan penyebaran secara lansung.
Perpindahan virus melalui jejaring rantai makanan dari satu spesies ikan atau yang di sebut inter spesies atau berbeda spesies disebut dengan intra spesies. Host atau perantara VNN dapat tumbuh di artemia, copepoda, dan ikan rucah sebagai pakan hidup. Prilaku karnivora pada ikan kerapu dapat mempercepat proses transferansi virus ini.

Kolerasi Tanferansi Virus dengan Aceh
Jika ikan kerapu lumpur yang didapat dari alam juga mengalami terjangkit virus VNN, dapat dikatakan bahwa virus VNN sudah menjangkit pada induk-induk kerapu alam di Aceh, yang notabenenya induk-induk kerapu alam merupakan sumber plasma nutfah yang tidak ternilai harganya. Apabila hal ini terjadi maka akan melumpuhkan sektor perikanan khususnya kerapu di Aceh, dan kemungkinan juga akan terjadi terhadap komoditas-komoditas perikanan lainnya seperti kakap, bandeng, dan lainnya.

Rekomendasi
Pengobatan pada ikan kerapu terserang VNN sampai saat ini belum dapat dilakukan, tidak ada jenis antibotik ataupun kemotrapi lainnya yang dapat mengobati penyakit yang disebakan oleh viral. Namun perhatian lebih di tekan kepada pencegahan antara lain : memperhatikan sumber benih yang di akan di digunakan, di perlukannya pengecekan secara laboratoris terhadap induk dan benih yang di hasilkan. Setiap benih yang akan di jual harus di lampirkan dengan sertifikat atau surat keterangan bebas virus yang dikeluarkan oleh laboratorium kesehatan ikan.
Apabila terjadi serangan VNN dan mengalami kematian, pindahan ikan-ikan yang terserang dari ikan-ikan yang sehat, dan ikan yang mati di pindahkan serta kubur jangan di biarkan atau di buang ke saluran.
Perlunya kerjasa semua pihak yang terkait dalam sektor perikanan, petani, pemerintah dalam hal ini Dinas terkait serta pelaku ekonomi untuk satu visi dalam mencegah serangan dan penyebaran virus VNN ini







Newsletter Edisi Ke dua

Newsletter Edisi Ke dua :

Dalam edisi kedua ini, team redaksi AACC Newsletter untuk headlines mengangkat kampung lele lele yang ada di Desa Neuhen Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Berkembangnya pembenihan ikan lele di desa Neuhen berawal dari Nasrudin pegawai negeri sipil, menurut beliau permintaan benih lele di aceh sangat besar, benih biasanya di datangkan dari medan
Pada bagian teknologi beisikan tentang pembenihan udang galah dan budidaya ikan bandeng, dan halaman terakhir tentang profil hatchery Pak Bukhari. Bagian Profil menceritakan jatuh bangun Bukhari dalam mengelola hatchey dan semoga menjadi inspirasi bagi petambak di Aceh. Selain itu Newsletter juga tetap menampilkan kolom tanya jawab dan daftar harga komoditas perikanan di psar tradisonal maupun luar negeri..

Newsletter Edisi Kedua

Sahabat Petambak

Aceh Aquaculture Communication Center Newsletter

AACC Newsletter merupakan media yang peruntukan kepada petambak dan berisikan tentang informasi budidaya perikanan. Informasi yang disajikan di dapat dari hasil wawancara petambak tentang jenis budidaya dan pengalaman sukses seorang petambak.
AACC Newsletter memiliki beberapa topik antara lain :
  • Liputan khusus : berisikan dari hasil kunjungan team AACC ke lapangan
  • Teknologi Budidaya : berisikan teknologi yang telah di kembangan BBAP Ujunga Batee untuk di terapkan masyarakat
  • Forum Tanya Jawaban : berisikan tentang tanya jawab yang berlasung melalui Skype atau email dari petambak
Newsletter terbit setiap satu bulan sekali pada minggu pertama setiap bulannya, newsletter sebanyak 500 copy di sirkulasikan secara gratis ke setiap stakeholder perikanan meliputi Dinas DKP Provinsi dan Tingkat Kabupaten, ALSC, Civitas Akademisi seperti Unsyiah, Malikussalaeh, SUPM Ladong, NGO seperti FAO, OISCA, dan UPT di bawah Dirjen PB, Dirjen PB, Pusbangluh Perikanan. Newsletter di danai oleh Australian Center For Internasional Aqricultural Reasearch (ACIAR) yang berbasis di BBAP Ujung Batee, Provinsi Aceh

AACC Newsletter Edisi I

Top a 7 day's

Pengikut

Buku Tamu


ShoutMix chat widget

Pengunjung

traffic

Waktu