Type Virus Yang Menyerang Udang

Type Virus Yang Menyerang Udang
Jenis Virus
Virus-virus yang menginfeksi udang dapat dibagi lagi menjadi dua kelompok: mereka yang menginfeksi ektoderm dan mesoderm; dan yang me
nginfeksi endoderm dan hepatopankreas. Virus dari ektoderm dan mesoderm
• IHHNV (infectious hypodermal and hematopoietic necrosis virus) menyerang dan menyebabkan masalah berat di amerika;
• YHV (yellow head virus) sejak 1992 menyerang di thailand;
• SEMBV (systemic ectodermal and mesodermal baculovirus), dikenal juga WSBV (white spot baculovirus), 1994 menjadi pathogen serius di asia; da
• TSV (Taura syndrome virus) menyebabkan kematian tinggi di ecuador.
The viruses dar endoderm dan hepatopancreas meliputi :
• BP (Baculovirus penaei type);
• BMNV (baculoviral midgut gland necrosis type virus);
• HPV (hepatopancreatic parvovirus);
• MBV (Penaeus monodon-type baculovirus); and
• TCBV (type C baculovirus of P. monodon).

Di Thailand, YHV dan SEMBV menyebabkan paling serius masalah, sementara beberapa virus, seperti HPV, penyebab tidak nyata kerugian bagi petani. Teknik Tradisional untuk mendeteksi virus pada hewan berpenyakit telah oleh mikroskop cahaya (misalnya bernoda, sel-sel tergencet dari insang dll) atau dengan mikroskop elektron transmisi (TEM). Beberapa virus yang berhubungan dengan tubuh oklusi.

SEMBV, atau virus white spot, adalah lebih umum pada 15-90 postlarvae hari tua. Udang sering terkena tubuh merah dan hematoksilin dan eosin (H & E) pewarnaan biasanya menunjukkan inti bengkak. Virus yang tampaknya sangat mirip dengan, dan mungkin sama dengan SEMBV, adalah hadir di Cina, Jepang, India, Malaysia dan Vietnam. Virus ini juga dapat menginfeksi spesies lain dari krustasea.


A. Penyakit White Spot Syndrome (WSS) atau Penyakit Bercak Putih

Peyebab : White Spot Baculovirus Complex

Bio – Ekologi Patogen :

· Memiliki kisaran inang yang luas yaitu golongan udang penaeid (P. monodon, P. japonicus, P.chinensis, P.indicus, L Vannamei, dll) serta krustase air.

· Dapat menyebabkan kematian hingga 100% dalam beberapa hari, udang dapat menjadi carrier.

· Penularan umumnya terjadi melalui kanibalisme dan langsung melalui air, beberapa krustacae menjadi carrier

· WWSSV mampu bertahan dan tetap infektif diluar inang selama 4 – 7 hari

Gejala Klinis

  • Infeksi akut menyebabkan penurunan konsumsi pakan secara drastic
  • Lemah, berenang ke permukaan air, mengarah ke pematang
  • Tampak bercak putih di karapas dan rostrum
  • Kematian hingga 100% dalam 3 – 10 hari

Pengendalian :

  • Belum ada teknik pengobatan, stabilitas kualitas lingkungan yang diperlukan
  • Desinfektasi suplai air dan pencucian telur, nauplius guna mencegah transmisi vertical
  • Pemberian unsure instimulan
  • Polikultur dengan komoditas lain, misal nila
B. Penyakit Taura Syndrome (TS)
Penyebab : picoma-like RNA virus

Bio-Ekologi Patogen :
  • umumnya terjadi antara 14-40 hari pasca tebar di tambak, dengan kematian mencapai 95%. Apabila penyakit terjadi pada umur 30 hari pertama, infeksi berasal dari induk, apabila terjadi di atas 60 hari paska tebar, kemungkinan infeksi berasal dari media air.
  • serangan akut dapat menyebabkan kematian hinggaa 80-95%.
  • udang yang selamat akan mengalami fase kronis dan menjadi carrier
Gejala Klinis :
  • udang lemah, menolak pakan yang diberikan, dan udang sekarat mendekat ke pematang.
  • warna tubuh merah pucat, warna merah pada ekor lebih jelas
  • infeksi pada pernapasan
  • udang yang bertahan hidup akan memberikan tanda bercak hitam.
Pengendalian :
  • Belum ada cara efektif
  • menjaga kualitas lingkungan
  • sanitasi peralatan
C. Penyakit Infectius Hypodermal & Haemtopoietic Necrosis (IHHN)
Penyebab : Parvovirus

Bio - Ekologi Patogen :
  • Penularann dapat terjadi secara horizontal dan vertikal, transmisi IHHV relatif cepat dan efesien melalui luka akibat kanibalisme.
  • transmisi berasal dari ovari induk betina yang terinfeksi
  • udang akan akut pada umu 35 hari pemeliharaan
  • udang akan cadi carrier
  • pertumbahan tidak seragam
Gejala Klinis :
  • Nafsu makan menurun, pertumbuhan lambat
  • berenang di permukaan, hilang kesimbangan
  • bercak-bercak putih terutaa antara segmen eksoskeleton
  • udang sekarat umumnya berwarna merah kecoklatan
  • laju kematian 3-10 hari
D. Penyakit Infectious Myonecrosis (IMNV) atau penyakit udang rebus
Penyebab : toti-like virus (totiviridae)
Bio-Ekologi Patogen :
  • Kompleksi infeksi yang melibatkan lebih dari jenis virus, misal TSV bersama IMNV
  • tingkat kematian rendah tapi konsisten
Gejala Klinis :
  • Kerusakan pada otot daging
Catatan " semua pengendalian sama, menjaga kestabilan lingkungan lebih baik, dan menggunakan benur bekualitas serta bergaransi "

Benur Berkualitas Kunci Keberhasilan Budidaya Udang Windu

Benur Berkualitas Kunci Keberhasilan Budidaya Udang Windu
Oleh Syafrizal1

Pemilihan benur berkualitas merupakan salah satu kunci keberhasilan dari budidaya udang windu di provinsi aceh. Enam tahun belakangan ini atau tepatnya pasca tsunami budidaya udang windu sangat terpuruk, hal ini dilihat dari banyak pertambakan udang yang tidak produktif disepanjang pantai timur dan pantai barat.

Salah satu factor penyebab keterpurukannya budidaya udang windu adalah rentan udang windu terhadap serangan penyakit yang di sebabkan oleh virus wssv dikenal dengan penyakit bintik putih (white spot). Apabila udang terserang penyakit ini akan menyebabkan gagal panen sehingga membuat masyarakat enggan untuk memelihara udang windu.

Penggunaan benur berkualitas merupakan salah satu kunci keberhasilan dari budidaya udang windu, hal ini langsung di amini oleh Hasyim (42 th). Menurut Hasyim (42th), ketua kelompok tani Ds Krueng Teunong Kecamatan Lamno Kabupaten Aceh Jaya, mereka (petambak red) yang tergabung dalam kelompok saat ini sudah menggunakan benur berkualitas.


Benur kualitas menurut Hasyim adalah benur yang kuat terserang dari virus wssv penyebab penyakit bintik putih (white spot). Hal ini diamini oleh Syafrizal (30 th), ketua tim monitoring kesehatan ikan dan lingkungan Laboratorium Kesehatan Hewan Akuatik, Balai Budidaya Air Payau (BBAP Ujung Batee), tetapi tidak hanya benur yang menjadi kunci keberhasilan tetapi menerapkan Better Management Practice (BMP’s) dalam membudidaya udang windu juga kunci dari keberhasilan budidaya.

Mustapa (36th) salah satu anggota kelompok tani menjelaskan sebelumnya kami menggunakan benur biasa, kami sudah mengetahui bahwa BBAP Ujung Batee sudah memproduksi benur berkualitas tetapi harganya sedikit mahal hingga kami memilih benur biasa, eh ternyata bukannya keuntungan yang kami dapat tapi kerugian.

Hasyim (42th ) kembali menjelaskan keuntungan menggunakan benur berkualitas tidak hanya tahan terhadap serangat penyakit tetapi memiliki pertumbuhan yang sangat baik. Beliau sangat bersyukur bahwa BBAP Ujung Batee memproduksi benur berkualitas, benur yang bebas virus. Sehingga usaha pertambakan di kelompok tani yang diketuainya dapat berjalan dengan baik.

Mereka (petambak red) dapat membudidaya udang windu tanpa adanya perasaan takut untuk terserang penyakit, beliau pun menitip salam kepada Bukhari Is, Widya Puspitasari, Ibnu Sahidir, dan Eva Yanti yang telah melayani dengan baik saat datang ke BBAP Ujung Batee.

Apakah Benur Berkualitas?

Benur berkualitas adalah benur yang di produksi dengan menggunakan tahapan seleksi, tahapan seleski bertujuan memperketat pendeteksian transperansi virus dari induk udang windu ke benur yang di hasilkan, sehingga benur yang dihasilkan benar-benar bebas virus.

Gb. Skema produksi benur berkualitas

Keuntungan Menggunakan Benur Bekualitas

Keuntungan menggunakan benur berkualitas antara lain : benur yang dihasilkan tahan dari serangan penyakit, pertumbuhan cepat meningkat, harga sedikit lebih tinggi dari dengan benur biasa tetapi menghasilkan keuntungan lebih banyak dari benur biasa.

* Syafrizal1 : Pimred AACC (Aceh Aquaculture Communication Center) Newsletter

Perekayasa dan Analis Laboratorium Kesehatan Hewan Akuatik BBAP Ujung Batee

PENGAMBILAN DAN PENGAWETAN CONTOH UJI DALAM PENGUKURAN KUALITAS AIR

PENGAMBILAN DAN PENGAWETAN CONTOH UJI

DALAM PENGUKURAN KUALITAS AIR

Oleh Syafrizal, S.Pi

Pendahuluan

Kesimpulan yang diambil dari suatu analisa pengukuran kualitas air sangat tergantung pada data hasil analisa contoh uji dan kerefresentatifan bahan contoh yang diambil. Data yang mempunyai tingkat ketelitian dan akurasi yang rendah serta contoh yang tidak refresentatif akan menyebabkan kesimpulan yang diambil tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari yang diamati.

Kesalahan dalam mengambil contoh uji, pengawetan contoh uji, serta menganalisa contoh uji akan menyebabkan rendahnya tingkat ketelitian dan ketepatan data yang dihasilkan. Sedangkan data yang tidak refresentatif disebabkan oleh kesalahan penentuan lokasi pengambilan contoh uji.

Oleh karena itu sangat diperlukan keahlian khusus dalam pengambilan, pengawetan dan analisis sesuai dengan parameternya, serta cara penentuan lokasi sampling yang tepat.

Quality Assurance Lapangan

Quality assurance lapangan merupakan suatu proses sitimatik yang dibuat bersamaan dengan program laboratorium dan management data , untuk menjamin tingkat kebenaran data yang di kumpulkan. Quality assurance lapangan terdiri dari :

  • Perlindungan contoh air dari lost & contamination.
  • Pengendalian mutu di lapangan

Perlindungan contoh air dari lost & contamination

Yang dimaksud dari lost & contamination adalah kehilangan target materi yang akan dianalisa dan terkontaminasinya contoh air uji yang diambil.Keutuhan contoh uji agar sampai dilaboratorium untuk di analisa akan mempengaruhi kualitas data yang di hasilkan.

Selama pengambilan, pengawetan, pengepakan dan pengangkutan contoh dapat terjadi lost & contamination sehingga contoh uji yang sampai ke laboratorium tidak utuh lagi. Terjadinya lost mengakibatkan hasil analisis lebih rendah dibandingkan dengan kadar yangsebenarnya dalam contoh sedangkan pada contamination terjadi sebaliknya..

Oleh karena itu petugas pengambil contoh uji (ppc) harus melakukan beberapa tindakan awal pencegahan untuk mempertahankan keutuhan contoh air sampai di laboratorium uji.

Tindakan-tindakan awal yang sangat diperlukan dilakukan untuk mencegah adanya lost dan contamination adalah sebagai berikut :

  • Parameter in situ.

Pengukuran parameter in situ seperti pH, turbidinitas, salinitas, dilakukan dengan mengambil contoh air. Dissolved Oksigen (DO) dilakukan dengan mengetahui ketinggian permukaan dan salinitas contoh uji.

  • Botol-botol tempat uji contoh air
    1. botol baru atau bekas dipakai agar dibersihkan terlebih dahulu sesuai dengan pensyaratan pencucian untuk masing-ma sing parameter lihat table 1.
    2. wadah tempat contoh air harus disesuaikan dengan jenis parameter yang akan dianalisis. Wadah tempat contoh air uji yang diawetkan dengan zat kimia tidak boleh dipakai sebagai tempat contoh uji untuk analisis parameter yang sama dengan bahan pengawet tersebut contoh :
      • botol atau tempat contoh air untuk analisis logam berat dengan pengawet asam nitrat tidak dipakai sebagai tempat contoh air untuk analisis nitrat.
      • botol atau tempat contoh air untuk analisis logam berat dengan pengawet garam merkuri tidak dipakai sebagai te mpat contoh air untuk analisis merkuri
    3. Botol yang digunakan untuk penyimpanan tempat contoh air tidak dapat digunakan untuk tempat contoh uji
  • Asap kendaraan dapat mengkontaminasi contoh uji logam berat
  • Kertas saring berserat gelas (GF/C) digunakan untuk uji bahan organic, amoniak, nitrit.
  • Kebersihan tangan pengambil contoh, dilarang merokok selama pengambilan contoh
  • Contoh air secepat dikirim ke laboratorium, penyimpanan harus di hindari dari sinar matahari, disimpan di tempat dingin dianjurkan menggunakan cool box atau sterofoam

Field Quality Control

Fiel quality control adalah pengendalian mutu di lapangan dan merupa bagian dari quality assurance. Untuk field quality terdapat dua factor penting yang harus dilakukan yaitu membuat larutan blanko lapangan yang dibawa kelapangan serta duplikat contoh.

Gambar pengukuran Dissolved Oksigen metode Winkler dilapangan sebagai quality assurance pengukuran Dissolved Oksigen dengan DO Meter (koleksi Lab Kesehatan Hewan Akuatik BBAP Ujung Batee 2010)

Larutan blanko lapangan dan duplikat contoh diperlukan untuk mengetahui :

  1. tingkat kemurnian dari bahan pengawet
  2. ada tidaknya kontanminasi dari : botol tempat contoh air, alat penyaring dan kertas saring, alat pengambil contoh air, pengepakan dan pengakutan air.
  3. ada tidaknya kesalahan sistimatik dan acak lainnya yang terjadi sejak pengambilan contoh sampai analisis contoh dilakukan

Botol blanko lapangan bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya kontaminasi yang berasal dari botol atau proses pencucian botol. Satu botol contoh air diambil secara acak dari kumpulan botol contoh. Botol blangko tersebut diisi dengan larutan blanko yang sesuai dengan parameter yang akan di analisis dan diperlakukan sama dengan contoh air uji.

Lokasi Pengambilan Contoh Air

Penentuan lokasi pengambilan contoh air merupakan salah satu factor yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan kerefresentatifan data. Di tambak, waduk, dan suangai serta muara pengambilan contoh air yang mewakili dengan mudah dapat ditentukan/ditetapkan.

Lokasi pengamatan dan frekeunsi pengambilan contoh air harus ditentukan dalam perencanaan, ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian, dan merupakan tanggung jawab petugas pengambil contoh di lapangan.

Didaerah muara sungai, pola sebaran air sungai sangat dipengaruhi oleh arus laut.pasang surut dan debit air sungai. Bila air laut menuju arah barat, aliran sungai juga menuju barat. Pada saat pasang, massa air sungai akan tersebar disepanjang pantai (Gb2).

Gb lokasi pengambilan di daerah muara warna biru apa bila arus air bergerak kearah barat, merah apabila bergerak kearah timur, dan hijau apabila air laut tenang (menyebar kesemua arah)

Dilokasi yang sama, nilai salinitas air laut pada surut dapat bernilai 5 ppt, sedangkan saat pasang dapat hingga 25 ppt. Hal ini menyebabkan data kualitas air akan berbeda bila arah aliran sungai menuju timur (Gb 2) walaupun di lokasi yang sama.

Oleh karena itu khusus di muara sungai contoh air diambil dari lokasi salinitas yang berbeda dari 5 ppt, 10 ppt, 15 ppt, 20 ppt dan 25 ppt serta 30 ppt. Agar mendapatkan data parameter kualitas yang beragam dan dapat menyimpulkan sebuah data.

Gbr 3 sampan tidak bermotor diperlu dalam pengambilan sampel logam berat (koleksi Lab Kesehatan Hewan Akuatik BBAP Ujung Batee, 2010.)

Pengambilan contoh uji di perairan tergenang seperti pada perairan tambak. Pengambilan contoh uji berdasarkan dengan lokasi keluar masuk air ke dalam tambak, pengambilan dilakukan pada titik mati di tambak, terdiri di empat titik, dua titik di saluran masuk dan saluran keluar (lihat gambar 4).

Gb3. Pengambilan contoh uji pada tambak, pengambilan dilakukan pada inlet dan outlet (bentuk tabung) dan titik mati (panah)

Saluran air pada lokasi tambak perlu dilakukan sebagai data pendukung untuk menyimpulkan hasil pengukuran. Pengambilan contoh uji dilakukan di badan air saluran, serta air sungai utama yang mengisi pertambakan.


Setiap titik lokasi pengambilan contoh uji dilakukan penandaan koordinat secara digital menggunakan GPS (Global Posisioning System) hal ini bertujuan untuk memudahkan pengamatan ulang apabila terjadi permasalah di perairan dikemudian hari.

Kesalahan-Kesalahan Pengukuran

  • Pengambilan contoh uji logam berat menggunakan perahu motor.
  • Pengecekan oksigen terlarut pada siang hari, sore hari.
  • Pengecekan oksigen terlarut tidak melakukan penyesuain salinitas
  • Pengecekan pH dilakukan pada siang hari, sore hari.
  • Pencucian wadah uji yang tidak bersih
  • Wadah uji phosphate di cuci menggunakan detergen.

* berdasarkan pengalaman survey

Sekapur Sirih BBAP UJUNG BATEE

Sekapur Sirih Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee
Oleh Syafrizal,S.Pi

Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee, Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan

Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee berdiri berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 264/KPTS/OT.210/1994 tanggal 18 April 1994. Pada saat itu, BBAP Ujung Batee diberi tugas melaksanakan penerapan teknik budidaya air payau serta pelestarian sumber daya ikan dan lingkungan di wilayah Indonesia Bagian Barat khususnya Sumatera.
Pada tanggal 13 Oktober 1999 Balai BAP Uju
ng Batee mendapatkan tugas berdasarkan SK Mentan No. 1040.1/Kpts/IK.450/10/1999 dan SK Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan Nomor 65 tahun 2000.
Selanjutnya pada tanggal 18 November 2002 Balai BAP Ujung Batee mendapat tugas sebagai pelaksana teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau serta pelestarian sumber daya induk/benih ikan dan lingkungan berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor:KEP.49/MEN/2002.
Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee sebagai pusat bisnis inkubator sangat berkepentingan dalam memacu perkembangan budidaya air payau secara terarah dan terprogram.

Tugas dan Fungsi BBAP Ujung Batee

Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee mempunyai tugas pokok :
Penerapan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau serta pelestarian sumberdaya induk/benih ikan dan lingkungan dengan wilayah kerja meliputi seluruh Sumatera.
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee menyelenggarakan fungsi :

  1. Pengkajian, pengujian dan bimbingan penerapan standar pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau
  2. Pengkajian standar dan pelaksanaan sertifikasi sistem mutu dan sertifikasi personil pembenihan serta pembudidayaan ikan air payau
  3. Pengkajian sistem dan tatalaksana produksi dan pengelolaan induk penjenis dan induk dasar ikan air payau
  4. Pelaksanaan pengujian teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau
  5. Pengkajian standar pengawas benih, pembudidayaan serta pengendalian hama dan penyakit ikan air payau
  6. Pengkajian standar pengendalian lingkungan dan sumberdaya induk/benih ikan air payau
  7. Pelaksanaan sistem jaringan laboratorium pengujian, pengawasan benih dan pembudidayaan ikan air payau
  8. Pengelolaan dan pelayanan imformasi dan publikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau
  9. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga
VISI DAN MISI BBAP UJUNG BATEE

Visi BBAP Ujung Batee adalah :

“Sebagai Pusat Pengembangan dan Imformasi dalam Pendampingan Teknologi Budidaya Air Payau dalam Menunjang Pembangunan Perikanan Budidaya yang Ramah lingkungan, Berdaya Saing, Berkelanjutan dan Berkeadilan”


Untuk mencapai visi tersebut, misi BBAP Ujung Batee sebagai berikut :

  1. Mengkaji dan menerapkan teknologi budidaya air payau yang sederhana, efisien, berdaya guna dan berhasil guna;
  2. Meningkatkan peranan Balai sebagai pendamping teknologi di masyarakat dalam rangka proses alih teknologi;
  3. Meningkatkan kualitas dan kapabilitas sumberdaya manusia BBAP Ujung Batee;
  4. Pengembangan jenis-jenis komoditas ekonomis spesifik lokasi;
  5. Mewujudkan sentral pengembangan bank induk udang lamboh;
  6. Mendorong berkembangnya usaha perikanan budidaya air payau yang berwawasan lingkungan dan berkelanjuta
Struktur Organisasi BBAP Ujung Batee


Fasilitas BBAP Ujung Batee,

Fasilitas yang terdapat di BBAP Ujung Batee terdiri
dari tiga bagian
  1. sarana administrasi seperti perkantoran, perpustakaan dan ruang pertemuan
  2. sarana produksi seperti terdiri dari 3 hatchery utama,produksi pakan alami massal, pemeliharaan induk, dan tambak - tambak pembesaran
  3. sarana laboratorium seperti laboratorium kesehatan hewan akuatik dan pakan alami serta sarana perekayasaan untuk pengembangan komoditas
  4. sarana komunikasi yang berfungsi untuk menjembatani balai dengan masyarakat.
  5. sarana pegawai, mess dan tempat tinggal staff

Gb. Sarana Komunikasi AACC
Gb. Sarana Laboratorium Kesehatan Hewan Akuatik
Gb. Sarana Tempat Tinggal Staff

Lokasi BBAP Ujung Batee
BBAP Ujung Batee berlokasi di Ds Durung Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar, secara operasional BBAP Ujung Batee terletak di dua lokasi, lokasi pertama di desa durung terdapat sarana perkantoran, pembenihan komoditas ikan, laboratorium dan pusat komunikasi serta tempat tinggal staff . Sedangkan lokasi kedua bertempat di Ds Neuhen terdiri sarana pembenihan komoditas udang, pembesaran dan tempat tinggal staff.



Efektifitas Biologi Cabinet Skala Rumah Tangga dalam Mengurangi Tingkat Kontaminasi Analisa Mikrobiologi Lapangan

Efektifitas Biologi Cabinet Skala Rumah Tangga dalam

Mengurangi Tingkat Kontaminasi Analisa Mikrobiologi Lapangan

Oleh : Syafrizal1, Evariaty2, Zulkanain3

Kegiatan monitoring lapangan tentang kesehatan ikan selalu melakukan pengambilan dan penganalisaan uji mikrobiologi. Ruang terbuka dalam kegiatan monitoring dapat menyebabkan kontaminan dalam melakukan penganalisaan mikrobiologi. Jarak yang cukup jauh dari Laboratorium Management Kesehatan Ikan dan Lingkungan BBAP Ujung Batee kurang baik untuk melakukan penganalisaan.

Perekayasaan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas hasil rancangan bangun berupa Biologi Cabinet. Metode yang digunakan adalah melakukan inokulasi bakteri dengan menggunakan biologi cabinet sederhana. Dari hasil pengujian biologi cabinet sederhana ini mampu terdapat perbedaan nyata antara total bakteri antara inokulasi langsung dengan menggunakan biologi cabinet serta inokulasi sampel yang di awetkan.

Kata Kunci : biologi kabinet, total bakteri, mikrobiologi

*1Syafrizal : Staff Perekayasa di Laboratorium Manajemen Kesehatan Ikan dan Lingkungan BBAP Ujung Batee

*2Evariaty : Staff Perekayasa di Laboratorium Manajemen Kesehatan Ikan dan Lingkungan BBAP Ujung Batee

*3Zulkainain : Staff Pengawasan Benih Ikan di Laboratorium Manajemen Kesehatan Ikan dan Lingkungan BBAP Ujung Batee
dipresentasi pada Indonesia Aquaculture 2010 di Lampung

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Laboratorium Kesehatan Hewan Akuatik Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee mempunyai fungsi dan tugas sebagai Laboratorium perumus dan pemecahan permasalahan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi perikanan baik secara internal dan eksternal.

Fungsi, peran dan tanggung jawab secara internal meliputi pengawasan dan perekayasaan yang berguna untuk menunjang peningkatan produksi hatchery, tambak BBAP Ujung Batee, sedangan secara eksternal menunjang kapasitas produksi masyarakat di provinsi Aceh.

Kegiatan monitoring lapangan merupakan salah satu peran laboratorium dalam meningkatkan produksi perikanan di masyarakat. Kegiatan monitoring seperti pengawasan kejadian penyakit di pertambakan milik masyarakat.

Kegiatan monitoring lapangan tentang kesehatan ikan selalu melakukan pengambilan dan penganalisaan uji mikrobiologi. Ada beberapa kendala dalam melakukan ananisa mikrobiologi Ruang terbuka dan jarak yang cukup jauh antara daerah monitoring dan laboratorium.

Untuk itu Laboratorium Kesehatan Hewan Akuatik mencoba untuk membuat sebuah rancang bangun guna memecahkan permasalahan yang ada. Alat Biologi Cabinet merupakan instrument yang lazim digunakan untuk analisa mikrobiologi. Alat biologi cabinet

Saat ini penggunaan biologi cabinet hanya lazim digunakan di dalam laboratorium sehingga perlu untuk dicoba membuat alat sederhana yang berfungsi sebagai biologi cabinet sehingga dapat membantu dalam analisa mikrobiologi di lapangan.

1.2. Tujuan

Mengetahui efektivitas biologi cabinet sederhana dalam aplikasi analisa mikrobiologi

1.3. Sasaran

Menghasilkan alternatif sistim biologi cabinet dalam aplikasi analisa mikrobiologi

1.4. Dampak

Menghasilkan biologi cabinet sederhana, ekonomis tanpa menghilangkan fungsinya

II. Bahan dan Metode

2.1. Waktu dan Tempat

Waktu perekayasaan dilakukan pada bulan Mei – Juni 2010, bertempat di Laboratorium Kesehatan Hewan Akuatik Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee serta Ds Ladong Aceh Kab. Aceh Besar.

2.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam pembuatan alat biologi cabinet sederhana adalah alkelirik, lem silicon dan lampu. Alat-alat yang digunakan berupa gerinda, karter, dan bor.

2.3. Prosedur Kerja

2.3.1. Pembuatan Alat Biologi Cabinet

Pembuatan alat biologi cabinet menggunakan papan alkerilik dengan ketebalan 5 mm, alkerilik dipotong untuk dijadikan sebuah balok berukuran 80 cm x 80 cm x 40 cm. Pada bagian depan di buat celah untuk pengoperasian. Cabinet dibagi menjadi dua ruangan, ruangan pertama berfungsi untuk melakukan penganalisaan mikrobiologi, dan ruang kedua merupakan tempat meletakan lampu dan exhaus.

Lampu berfungsi untuk memberikan pencahayaan saat melakukan penganalisaan dan exhaust berfungsi untuk menyedot udara yang masuk dari celah bagian depan kabinet agar cabinet menjadi steril.

2.3.2. Persiapan Pengujian

Persiapan pengujian dengan cara melakukan analisa mikrobiologi di lapangan dengan menggunakan biologi cabinet sederhana dan melakukan analisa mikrobiologi di tempat terbuka serta melakukan anlisa mikrobiologi dengan menggunakan sampel yang telah diawetkan.

2.3.3. Pengujian dan Pengambilan Contoh

Pengujian dan pengambilan contoh ikan uji dilakukan di tambak pencontohan BBAP Ujung Batee di Kabupaten Aceh Besar, Desa Ladong. Ikan uji yang digunakan merupakan ikan uji yang sama pada tiap pengujian.

2.3.4. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan secara kualitatif

III. Hasil dan Pembahasan

Prinsip Kerja

Prinsip kerja dari sebuah biologi cabinet komersil adalah menjamin ruangan penganalisaan menjadi steril dengan cara mengelola udara di dalam cabinet menjadi steril dan bebas dari komtaminan. Pada umumnya biologi cabinet terdiri dari HEPA Filter, Blower /sistim exhaust dan Lampu UV.

Biologi cabinet komersil berukuran besar, dibentuk dengan bahan metal dan kaca berukuran tebal, sehingga menyulitkan dalam pengoperasiannya di lapangan. Secara keamanan dalam berkeja biologi kabinet komersil di bagi menjadi Class I Cabinets, Class II Cabinets, Class III Cabinets, dan Class IV Cabinets.

Prinsip kerja dari biologi cabinet sederhana hasil rancang bangun mengadopsi prinsip kerja dari biologi cabinet komersil. Hepa Filter dan Exhaust pada biologi cabinet komersil berfungsi untuk menjamin udara yang ada di didalam biologi kabinet menjadi steril dengan cara mengsirkulasi

Exhaust pada biologi cabinet sederhana berfungsi untuk menarik keluar udara yang masuk dari luar, sedangkan peran Filter digantikan dengan melakukan pembasuhkan formalin ke seluruh bagian dalam dari cabinet sederhana, pembasuhkan dilakukan untuk sterilisasi ruangan.

Total Bakteri

Dalam kegiatan ini dilakukan penanaman sampel bakteri dari dua contoh uji ikan dan air. Dua contoh uji diberlakukan isolasi bakteri dengan menggunakan waktu penyimpanan berbeda antara 6 jam, 18 jam, 24 jam dan hasil dibandingkan dengan penanaman secara langsung baik menggunakan biologi cabinet sederhana serta di lakukan isolasi di luar ruangan.

bakteri di isolasi dengan menggunakan media PCA, TCBS, dan NA, total bakteri menentukan kejadian suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri. PCA merupakan media agar yang memiliki fungsi dan tujuan untuk menghitung jumlah bakteri yang terdapat pada contoh uji. TCBS dan NA merupakan media selektif bertujuan untuk mengetahui bakteri yang biasa menyerang pada komoditas air payau.

Dari hasil pengamatan terdapat kenaikan jumlah bakteri baik di tanam pada media PCA, TCBS, dan NA pada sampel ikan, pada penyimpanan selama 24 jam total bakteri melebih ambang batas dan tidak dapat di perhitungkan to numerous to count.

Sedangkan hasil pengamatan pada sampel air yang didinginkan terdapat penurun jumlah bakteri dari setiap sampel yang di inokulasi pada media PCA agar, TCBS agar dan NA agar bila di bandingkan dengan inokulasi bakteri dengan menggunakan biologi kabinet dan inokulasi di outdoor.

Pada sampel ikan kenaikan bakteri dipengaruhi oleh adanya kandungan protein sebagai sumber pertumbuhan bakteri, walaupun sampel ikan di simpan pada suhu rendah 5 celsius.

Pada sampel air terjadi penurunan bakteri bila dibandingkan dengan inokulasi didalam biologi cabinet dan outdoor. Hal ini dimungkinkan disebabkan pengaruhi suhu rendah 5 celsius menghambat pertumbuhan bakteri.

Kesimpulan

Biologi cabinet sederhana dapat mencegah kontaminasi dalam inokulasi bakteri saat penganalisaan mikrobiologi monitoring di lapangan, sehingga mempercepat pengambilan keputusan saat terjadi serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Kedepan dengan adanya biologi cabinet sederhana dapat mengubah sebuah standar operasional prosedur (SOP) dari penanaman bakteri saat monitoring di lapangan.





Serba Serbi INDOAQUA 2010

Serba Serbi Indonesia Aquaculture 2010 di Lampung

Kegiatan Indonesia Aquaculture atau disingkat Inaq merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB) Kementerian Perikanan dan Kelautan. Acara ini dilaksanakan setiap tahunnya, bertujuan untuk memperkenalkan teknologi-teknologi baru di dunia perikanan dari setiap Unit Pelayan Terpadu di bawah naungan Dirjen PB.

Inaq 2010 pelaksanaannya bertempat di provinsi Lampung, kegiatan Inaq kali ini terdiri dari kegiatan seminar, dan pameran yang menampilkan teknologi-teknologi baru di bidang perikanan. Peserta Inaq terdiri dari semua stake holder yang bergerak di bidang perikanan seperti dari BBAP Ujung Batee, BBAL Batam, BBAT Jambi, BPBL Lampung, BPBAT Sukabumi, BPBAP Jepara, BBAT Tatelu, BBAT Mandiangin, BBL Ambon, Dinas-dinas perikanan provinsi, perusahan-perusahan.


Foto : Generasi Perikanan di BBAP Ujung Batee

Foto Stand BBAT Jambi

Foto Stand BBAP Situbondo


Foto Bersama Kepala Dinas Perikanan Provinsi Riau Bp. Tengku Dahril

Top a 7 day's

Pengikut

Buku Tamu


ShoutMix chat widget

Pengunjung

traffic

Waktu